Jakarta, BINA BANGUN BANGSA – Presiden Joko Widodo secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Tombolotutu, menjadikannya pahlawan pertama dari Sulawesi Tengah, di Istana Negara, 10 November 2021.
Tombolotutu (1857-17 Februari 1901) adalah salah satu raja di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Tombolotutu mempunyai gelar Pua Darawati, ia menerima takhta Kerajaan Moutong pada tahun 1877 di umur 20 tahun. Sebagai raja, Tombolotutu turut menjadi garda terdepan dalam garis perlawanan menghadapi penjajah Belanda. Dikutip dari situs Pemkab Parigi Moutong, untuk menghadapi perlawanan Tombolotutu, Belanda sampai harus mengerahkan Marsose. Marsose merupakan pasukan khusus atau pasukan elite Belanda yang pernah diturunkan saat Perang Diponegoro dan Perang Aceh.

Awal Kehidupan & Kesultanan Moutong
- 1857: Lahir di Moutong, Sulawesi Tengah.
- 1877 (usia 20 tahun): Dinobatkan sebagai Raja (gelar Pua Darawati) Kerajaan Moutong, menggantikan pamannya, Raja Pondatu (Wikipedia).
Penolakan Kontrak dengan Belanda & Awal Perlawanan (1898–1899)
- Begins with Tombolotutu menolak dua perjanjian kolonial Belanda—Long Contract dan Korte Verklaring yang merugikan rakyat (Kaidah.ID, Official Website Initu.id).
- Belanda merespons dengan menenggelamkan kapal-kapal dagang di Pelabuhan Moutong untuk memonopoli perdagangan (Kaidah.ID, Official Website Initu.id).
- Oktober 1898: Pecah perlawanan pertama selama 11 hari di Istana Tombolotutu di Lobu; meski kalah, semangat tidak patah, dan perlawanan berlanjut ke medan gerilya (Kaidah.ID, Referensia.id, Official Website Initu.id).
Perlawanan Gerilya & Serangkaian Pertempuran (1899–1901)
- Akhir 1898: Bergerilya di Pulau Walea Bahe selama 6 hari; meski diketahui Belanda, semangat perjuangan tetap menyala (Equator News, Official Website Initu.id).
- Agustus 1900: Belanda menyerang Tombolotutu di Bolano—meski beberapa kali berhasil diusir, perlawanan terus berlanjut (Official Website Initu.id, Pilar Kebangsaan).
- Belanda menurunkan pasukan elit Marsose (170 pasukan) untuk membungkam perlawanan tersebut (Pilar Kebangsaan, IDN Times Sulsel, Sindonews Nasional).
- November–Desember 1900: Pertempuran di Paladuduang, serangan kapal perang Belanda, serta pengungsian keluarga Tombolotutu ke Sojol. Saat di Sojol, istrinya melahirkan anak pertama (Referensia.id, Equator News, Official Website Initu.id).
Pengusiran & Gugurnya Sang Raja (1901)
- Mei–Juli 1901: Perjuangan terus berlanjut ke Tambu, Banawa, Pantoloan, hingga Toribulu; meski mendapat dukungan lokal, tekanan Belanda semakin besar (Referensia.id, Equator News, Official Website Initu.id).
- 17 Agustus 1901: Tombolotutu gugur dalam pertempuran akhir; dimakamkan di Desa Padang, Toribulu, Moutong (Pilar Kebangsaan, IDN Times Sulsel).
Warisan Budaya & Pengakuan Sejarah
- Perjuangan ini sempat terkendala oleh minimnya data primer. Namun sejak 1990-an, gelombang usulan untuk mengangkat Tombolotutu sebagai Pahlawan Nasional terus bergulir, khususnya setelah penelitian buku Bara Perlawanan di Teluk Tomini oleh Universitas Tadulako (2017) (sulteng.antaranews.com, Pilar Kebangsaan, IDN Times Sulsel).
- Publik nasional pun akhirnya mengakui nilai perjuangannya dengan penetapan pahlawan nasional, selaras dengan semangat gotong royong, keberanian, dan keteguhan hati yang diwariskan oleh Tombolotutu (kompas.id, Pilar Kebangsaan).
Tombolotutu: Inspirasi Generasi Muda untuk Bangsa
Perjalanan hidup Tombolotutu, mulai dari menolak penjajahan hingga memimpin perlawanan di berbagai medan perang, merupakan contoh keteguhan dan cinta tanah air. Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional bukan hanya pengakuan atas jasanya, tapi juga panggilan moral untuk generasi masa kini meneruskan semangat perjuangan—dengan menjaga kedaulatan bangsa, memperkuat solidaritas, dan mencerdaskan kehidupan berbangsa untuk mewujudkan kemerdekaan dan kedaulatan NKRI. (Red)
Disclaimer: Isi artikel ini diolah dari berbagai sumber resmi, termasuk arsip sejarah, publikasi akademik, dan pernyataan pemerintah, guna memberikan gambaran yang akurat dan komprehensif mengenai sosok Tombolotutu.
DPN BINA BANGUN BANGSA DUKUNG INOVASI BOBIBOS BBM BERBASIS NABATI MENUJU KEDAULATAN ENERGI
Balai Bahasa Sulteng Gelar Forum Konsultasi Publik Untuk Tingkatkan Kualitas Pelayanan
Semangat Kepemudaan dan Pengabdian: Pengurus IKPMST 2025–2026 Resmi Dikukuhkan di Kota Bandung