Sel. Agu 21st, 2018

MENGAPA KITA TETAP MERASA BENAR WALAUPUN SEJATINYA SALAH ?

Mengapa kita Merasa Benar Walaupun Sejatinya Salah ?

Oleh : Eddy G. Hasan *)

Pada tahun 1894, sebuah surat yg telah di-sobek-sobek ditemukan di keranjang sampah oleh staf dari seorang Jenderal Perancis. Maka dilakukanlah investegasi besar-besaran untuk mengetahui siapa yang lewat bukti surat itu telah menjual rahasia militer Perancis ke pihak Jerman. Kecurigaan kebanyakan orang mengarah pada Letkol. Alfred Dreyfus.

Dreyfus tidak punya track record yg tercela, tidak juga punya motif untuk melakukan pengkhianatan. Cuma ada dua kesalahan Dreyfus. Pertama, tulisannya mirip dengan surat yang ditemukan dan lebih parah lagi, dia satu-satuya pejabat militer yang beragama Yahudi. Waktu itu, Militer Perancis dikenal anti Yahudi.

Lalu rumah Dreyfus digeledah, mereka tidak menemukan bukti apapun. Tapi inipun malah dianggap sebagai bukti betapa liciknya Dreyfus. Tidak hanya berkhianat, dia juga dengan sengaja menghilangkan semua bukti. Lalu mereka memeriksa personal history-nya, bahkan meng-interview guru sekolahnya. Ditemukan dia sangat cerdas, menguasai 4 bahasa, dan punya memori yang sangat tajam. Maka inipun dianggap sebagai bukti bahwa Dreyfus punya motif dan skill untuk kerja pada agen inteligen asing. Bukankah memang agen inteligen harus punya 3 skill itu..?, benarkan..?.

Maka Dreyfus diajukan ke pengadilan militer dan dinyatakan bersalah. Di depan publik, lencananya dilucuti, kancing baju dicabut, pedang militernya nya dipatahkan. Peristiwa ini dikenang sebagai Degradation of Dreyfus. Saat diarak oleh massa yg menghujat dia, Dreyfus teriak : “Saya bersumpah saya tidak bersalah, saya masih layak untuk mengabdi pada negara, Hidup Perancis.. Hidup Angkatan Darat”. Tapi semua orang sudah tidak peduli dengan teriakannya dan akhirnya dia divonis dipenjara seumur hidup di Devil’s Island, pada 5 Januari 1895.

Mengapa serombongan orang pintar dan berkuasa di Perancis waktu itu begitu yakin bahwa Dreyfus bersalah..?. Dugaan bahwa Dreyfus memang sengaja dijebak, ternyata keliru. Para sejarawan meyakini bahwa Dryfus tidak dijebak, dia hanya menjadi korban dari sebuah fenomena yg disebut Motivated Reasoning. Yaitu sebuah penalaran yang nampak sangat logis dan rasional, padahal semua itu hanyalah usaha mencari ‘pembenaran’ atas suatu ide yang telah diyakini sebelumnya. Tujuannya..? termotivasi untuk membela atau menyerang ide tertentu, bukan mencari ‘kebenaran’ secara jernih, dari pihak manapun kebenaran itu berasal.

“Untuk memiliki good judgment (penilaian yang jernih), khususnya untuk hal-hal yang kontroversial, kita tidak terlalu membutuhkan kepintaran atau analisa yang canggih, tapi kita lebih membutuhkan kedewasaan psikologis dan pengelolaan emosi yang baik.”

Maka kalau kita sudah mengeras sikapnya untuk sangat pro/anti partai politik tertentu, atau sudah terlanjur gandrung/benci sama seseorang, maka kita akan cenderung mengalami motivated reasoning ini. Apapun pendapat orang lain yg kita anggap musuh akan nampak salah di pikiran ‘rasional’ kita. Karena memang itulah hebatnya otak kita, selalu bisa menemukan alasan rasional kenapa mereka salah dan saya benar. Kita akan bisa mencari 1000 bukti yang membenarkan sikap kita itu. Bahkan hal-hal yang sifatnya netral tiba-tiba jadi nampak sebagai bukti dari kebenaran sikap kita ini.

Kalau hati sudah dikuasai oleh cinta atau benci, dan berketetapan, pokoknya saya pro ini, anti itu, kita akan cenderung meyakini kebenaran segala pendapat yg mendukung pendapat kita, dan mengabaikan segala argumen yang berlawanan dengan keyakinan kita. Kita jadi kehilangan akal sehat yang adil dan proporsional dalam menyikapi segala hal. Para psikolog menyebut kesesatan pikir yang mewabah akhir-akhir ini Confirmation Bias.

Fenomena confirmation bias dan motivated reasoning ini sudah sangat jamak ditemukan di sekitar kita, bahkan kadang kita pun ikut jadi pelaku utamanya. Karena hampir semua dari kita telah mengambil sikap untuk memilih partai tertentu, suka tokoh tertentu, punya agama/madzhab tertentu, bahkan mungkin menjadi anggota fanatik supporter klub sepak bola tertentu. Semua ini telah menjadikan kita secara ‘otomatis’ mudah sekali terjebak dalam 2 (dua) kesesatan pikir di atas.

By the way busway, bagaimana dengan nasib Dreyfus? Adalah Colonel Georges Picquart, yang walaupun dia juga anti Yahudi, mulai berpikir, bagaimana jika memang Dreyfus tidak bersalah..? bagaimana jika karena salah tangkap..?, penjahat sebenarnya masih berkeliaran dan terus membocorkan rahasia militer Perancis pada Jerman..? Kebetulan dia menemukan ada pejabat militer lain yang tulisan tangannya lebih mirip dengan surat yang ditemukan, dibanding tulisan Dreyfus. Singkat cerita, atas perjuangan Colonel Picquard, Dreyfus baru dinyatakan tidak bersalah 11 tahun kemudian.

Yang paling menakutkan dari Motivated Reasoning & Confirmation Bias ini adalah, pelakunya seringkali tidak menyadari dan membela pendapatnya mati-matian sambil menghujat pendapat lain yang berbeda, sehingga efeknya terjadi perang mulut, bahkan di beberapa negara, terjadi genocida, dan perang saudara.

Maka bagaimana caranya agar kita bisa berpikir lebih adil dan jernih..? Bukankah Al-Qur’an (dan saya rasa juga kitab suci lainnya, secara substansial) menegaskan: “Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak adil terhadap mereka. Bersikap adil-lah, karena itu lebih dekat dengan taqwa”.

Bagaimana agar kita selamat dari 2 (dua)  sesat pikir diatas..? agar kita bisa membuat prediksi yg akurat, membuat keputusan yang tepat atau sekedar membuat good judgement..? Menariknya, ini tidak berkaitan dengan seberapa pintar atau seberapa tinggi IQ kita atau gelar akademis kita. Kata para ahli tentang good judgment, ini justru berkaitan erat dengan ‘bagaimana anda merasa’ (how you feel). Berikut beberapa tips untuk memiliki ‘penilaian yg jernih’ :

1. Jangan terlalu emosional. Semakin kita emosional, semakin kita termotivasi untuk tidak menyeleksi kebenaran. Semua argumen yang berlawanan akan cenderung kita abaikan. Sementara hoax pun, asal cocok dengan selera kita akan buru2 kita yakini kebenarannya.

2. Pertahankan rasa ingin tahu (Curiosity). Rasa penasaran ingin tahu ini akan membuat kita lebih ingin ‘cek-ricek’ argumentasi dari dua kubu. Tidak cepat puas buru-buru meyakini segala informasi yang masuk.

3. Milikilah hati dan pikiran yg terbuka (Open-Mind & Open-Heart). dengan begitu kita akan cenderung mau mendengarkan dan berempati atas posisi masing-masing dari dua kubu yang berpolemik dan atau berseteru. Jangan menutup diri hanya mau menerima informasi dari pihak yang pro sama kita, dan langsung mencurigai, bahkan menolak berita dari semua yang kita anggap pro lawan kita.

4. Jadilah orang yg Independen (grounded). Jangan mudah anut grubyuk ikut2an pendapat sesorang atau satu kelompok. Jangan letakkan harga diri kita berdasarkan omongan orang lain tentang kita. Silahkan pro ini atau anti itu. Tapi jangan overdosis, sampai menganggap segala hal yg dari pihak kita pasti benar dan segala hal yg dari pihak lawan pasti salah.

5. Milikilah kerendahan hati (Humbleness) bahwa memang kita punya keyakinan tertentu tentang segala hal (politik, sikap keagamaan, aliran pemikiran, dll) tapi dengarkan dengan empatik juga pendapat-pendapat yang berlawanan dengan kita. Dan jika bukti-bukti menunjukkan kita memang salah, jangan sungkan-sungkan untuk mengakui dan minta maaf.

Kesimpulannya (menurut Julia Galef, dalam ceramahnya di TEDX yang mendasari tulisan ini) :

“Untuk memiliki good judgment (penilaian yang jernih), khususnya untuk hal-hal yg kontroversial, kita tidak terlalu membutuhkan kepintaran atau analisa yang canggih, tapi kita lebih membutuhkan kedewasaan psikologis dan pengelolaan emosi yang baik.”

Jadi apa yg paling kita inginkan..?
Apakah membela mati2an pendapat subyektif kita..?
Ataukah ingin melihat dunia dengan mata hati sejernih mungkin..?

Asumsi itu tentu sesuatu yang otentik, jangan karena *Asumsi* sehingga bisa menjadi kesalahan dalam Berpikir.

*) Penulis adalah Dewan Penasehat DPD BINA BANGUN BANGSA Prov. DKI Jakarta.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: