Oleh: M. Ridwan (Konsultan Umum)
Semua orang punya tanggung jawab yang sama terhadap keadilan, kemanusiaan, dan lingkungan hidup.” Pernyataan ini terdengar ideal dan memang seharusnya menjadi prinsip dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun dalam realitas sosial kita, pernyataan tersebut kerap kali berhenti pada tataran kesadaran—tanpa berlanjut menjadi kesadaran dan tindakan nyata.
Di tengah tantangan kompleks yang dihadapi masyarakat modern—mulai dari ketimpangan ekonomi, korupsi, dan kerusakan lingkungan, hingga pelanggaran hak asasi manusia—muncullah satu kelompok yang secara konsisten memilih untuk bersuara dan bertindak: para aktivis.
Aktivis Bukan Hanya Peduli, Tapi Bertindak
Aktivis adalah individu atau kelompok yang memilih untuk bergerak aktif dalam memperjuangkan nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan keberlanjutan lingkungan. Mereka tidak hanya memiliki empati terhadap masalah sosial, tetapi juga mengambil posisi, menyuarakan suara-suara yang terpinggirkan, dan mendorong perubahan sistemik.
Berbeda dengan masyarakat umum yang mungkin hanya mengikuti isu dari media sosial atau diskusi terbatas, aktivis hadir langsung di lapangan. Mereka mengorganisir kampanye, mendesak kebijakan, menggalang solidaritas, dan sering kali berhadapan langsung dengan kekuasaan serta risiko pribadi.
Ketika Kesadaran Tidak Cukup
Kita hidup dalam era informasi, di mana setiap orang bisa mengetahui berbagai isu sosial secara cepat. Namun, akses terhadap informasi tidak serta merta melahirkan aksi. Kesadaran tanpa komitmen dan keberanian akan menghasilkan apatisme kolektif.
Di sinilah letak urgensinya peran aktivis: membunyikan alarm sosial, mengganggu zona nyaman publik, dan memaksa semua pihak untuk membuka mata dan bertanggung jawab. Tanpa kehadiran aktivis, banyak persoalan akan terus tertutupi oleh kepentingan politik dan ekonomi.
Aktivisme Adalah Jantung Perubahan Sosial
Sejarah menunjukkan bahwa perubahan-perubahan besar—baik di Indonesia maupun di dunia—tidak pernah lahir dari kepasifan. Gerakan kemerdekaan, reformasi 1998, pengakuan hak-hak buruh, dan perlindungan lingkungan, semuanya diawali oleh keberanian sekelompok kecil orang untuk menyuarakan dan memperjuangkan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Mereka inilah yang sering kita sebut sebagai aktivis. Mereka mungkin berbeda strategi, pendekatan, bahkan ideologi. Namun satu hal yang menyatukan mereka adalah: komitmen terhadap perubahan yang lebih adil dan manusiawi.
Bukan Tentang Jumlah, Tapi Tentang Keteladanan
Memang benar bahwa tanggung jawab sosial adalah milik semua. Namun, tidak semua orang bersedia atau mampu memikul beban tersebut. Aktivis hadir bukan untuk menggantikan tanggung jawab orang lain, melainkan untuk menjadi pelopor, penggerak, dan teladan—hingga masyarakat luas pun terdorong untuk turut ambil bagian. Mereka adalah pemantik kesadaran kolektif, pengingat moral publik, dan kadang kala, satu-satunya suara waras di tengah riuhnya kepentingan.
Menutup dengan Aksi
Di tengah situasi sosial yang semakin kompleks, Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang berani berbicara dan bertindak. Tidak semua orang harus turun ke jalan, namun semua orang bisa menjadi bagian dari perubahan melalui kapasitas masing-masing: menulis, mengedukasi, memilih secara bijak, atau mendukung gerakan yang benar.
Pada akhirnya, menjadi aktivis bukanlah label, tapi sikap hidup. Sikap yang menolak diam di hadapan ketidakadilan. Sikap yang percaya bahwa dunia bisa menjadi lebih baik—selama masih ada orang-orang yang mau memperjuangkannya.(***)
Selamat dan Sukses, Dr. Drs. Mulyadin Malik Tandagimpu, M.Si.,CIGS Resmi Pimpin BMA Sulawesi Tengah 2026–2031
Dr. Mulyadin Malik Resmi dilantik Jadi Wakil Ketua FKPA, oleh Gubernur Sulawesi Tengah
KITA KEMBALI ATAU DIJAJAH