HUT ke-60 BKKKS DKI Jakarta: Momentum Penguatan dan Kolaborasi Pelayanan Kegiatan Sosial di Tengah Tantangan Global
Jakarta, binabangunbangsa.com – Suasana Ruang Serba Guna lantai tiga Graha BKKKS, Jakarta Pusat, Kamis pagi itu terasa hangat namun sarat makna. Sejumlah pengurus, tokoh masyarakat, hingga mitra organisasi berkumpul dalam satu momentum: menandai enam dekade perjalanan Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKS) DKI Jakarta. (30/04/2026)
Dibalut kesederhanaan dan keceriaan dalam nuansa kebersamaan—kesadaran bahwa usia 60 tahun bukan sekadar seremoni, melainkan penegasan eksistensi bahwa organisasi ini telah melewati berbagai fase zaman.

Dalam sambutannya, Ketua Umum BKKKS DKI Jakarta, Drs. H. Sukarno, M.M, mengingatkan kepada seluruh pengurus dan jajarannya bahwa organisasi sosial pada akhirnya diuji oleh waktu.
“Pengurus bisa datang dan pergi, tetapi BKKKS harus tetap eksis sebagai lembaga yang terus berkiprah membantu pemerintah dalam menyelenggarakan kegiatan kesejahteraan sosial di DKI Jakarta,” ujarnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya memperkuat barisan internal sekaligus memperluas jejaring kemitraan.

“Momentum ini harus memperkuat pengurus, simpatisan, dan mitra. Harapannya, BKKKS semakin dewasa, semakin berkibar, dan semakin nyata dalam pelayanan sosial,” ujarnya.
Ketum berharap ada penguatan, bukan hanya dalam bentuk pengakuan, tetapi juga dukungan konkret—anggaran dan pembinaan—agar organisasi dapat menjalankan peran dan fungsinya secara optimal sebagai mitra kerja strategis pemerintah.

Ia pun meminta kepada seluruh pengurus BKKKS—baik di tingkat provinsi maupun kota—untuk tetap menjaga semangat pengabdian sekaligus meningkatkan profesionalisme dalam menangani persoalan sosial yang kian kompleks.
Selain itu, ia menggarisbawahi pentingnya nilai-nilai dasar dalam kerja sosial. Menurutnya, pengabdian di bidang kesejahteraan sosial tidak cukup hanya dengan struktur organisasi, tetapi harus ditopang oleh integritas—keikhlasan, kejujuran, dan semangat juang yang konsisten.
Ketua Umum juga mendorong solidaritas internal antar pengurus. Ia menyebut prinsip “saling asah, asih, dan asuh” sebagai fondasi dalam menjaga kekompakan dan keberlanjutan organisasi.
Di sisi lain, ia menekankan pentingnya agar BKKKS tetap adaptif terhadap perubahan sosial dan mampu menjalankan perannya secara optimal.

Pandangan serupa disampaikan Dewan Penasihat BKKKS DKI Jakarta, Mayjen TNI (Purn) Prijanto. Dengan gaya lugas, ia mengingatkan bahwa keberlanjutan organisasi tidak bisa dilepaskan dari dukungan kebijakan dan anggaran. Ia merujuk pada pengalamannya saat menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2007–2012, ketika alokasi anggaran untuk BKKKS dinilai masih memadai.
“Pada periode itu, dukungan anggaran relatif cukup. Namun seiring waktu, kenapa terjadi penurunan ya ?..yang jelas sangat berdampak pada luas dan capaian pelayanan sosial ke masyarakat. Harapan ke depan, ini perlu menjadi perhatian pemerintah DKI,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebijakan publik pada dasarnya harus berpijak pada prinsip keadilan sosial—bahwa setiap alokasi sumber daya negara harus kembali dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dalam konteks itulah, BKKKS memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara kebijakan dan kebutuhan riil warga.
“Anggaran publik harus kembali ke masyarakat dalam bentuk pelayanan nyata. Di sinilah BKKKS berperan, memastikan pelayanan sosial benar-benar dirasakan oleh masyarakat Jakarta,” tegasnya.

Di tingkat wilayah, realitas itu terasa lebih konkret. Alex, Ketua BKKKS Jakarta Pusat, menyebut keterbatasan anggaran sebagai tantangan yang harus dihadapi bersama pengurus.
“Dengan kondisi seperti ini, kami harus mendorong kemandirian dan terus berbenah agar tetap bisa menjalankan program dan pelayanan sosial,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan itu, muncul dorongan untuk tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah. Kemandirian mulai diposisikan sejalan dengan efisiensi, tapi tidak menyurutkan semangat sosial.
Enam puluh tahun telah membuktikan bahwa organisasi ini mampu bertahan. Tetapi di Jakarta yang terus berubah, bertahan saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah kemampuan beradaptasi—dan dukungan sistem yang memadai agar peran sosialnya tidak sekadar simbolik.
Acara di lengkapi dengan pembacaan doa oleh ustd. Abdul Rahman.
Perayaan ulang tahun menjadi refleksi kolektif: tentang apa yang sudah dicapai, apa yang mulai berkurang, dan apa yang harus diperjuangkan ke depan.

Kemudian ada pembacaan puisi oleh Sekretaris BKKKS DKI Jakarta, Muchtar, SE, MM. “Renungan dan Refleksi 60 Tahun BKKKS dalam Puisi”.

Setelah itu puncak acara dengan pemotongan nasi tumpeng dan foto bersama dengan seluruh pengurus dan staf BKKKS DKI Jakarta.

Dr. Mulyadin Malik Dorong Penguatan Regulasi Kebudayaan Sulawesi Tengah dalam FGD PAPPRI Sulteng
Maklumat 6 Mei 1950 Kembali Digaungkan, Penguatan Memori Sejarah Kota Palu Integrasi ke NKRI
60 Tahun BKKKS DKI: Dari Jejak Pengabdian dan Harapan