Sel. Apr 23rd, 2019

PAK PRESIDEN, SUDAH 6 BULAN, KORBAN GEMPA MENAGIH JANJI

Jakarta, Bina Bangun Bangsa – Informasi terakhir yang kami himpun, hingga kemarin 22 Januari 2019, dari 216.519 rumah rusak; baru 4.429 rumah tahan gempa yang mulai dikerjakan. Itu setara dengan 2,05% dari total rumah warga yang rusak. Bayangkan, yang 98% tinggal di mana? Demikian pertanyaan Fahri Hamzah ketika memimpin rapat Timwas Bencana DPR dan mengevaluasi penanganan korban di NTB, Sulteng, Banten dan Lampung (23/1).

Sewaktu gempa pertama menggoyang Lombok, NTB pada Ahad, 29 Juli 2018. Keesokan harinya, Presiden langsung mengunjungi korban dan menjanjikan 50 juta untuk setiap korban yang rumahnya rusak berat. Itu terjadi di tengah suasana Asian Games.

Rupanya, gempa 29 Juli bukanlah gempa terakhir di Lombok. Ribuan kali gempa susulan, dengan empat gelombang gempa terbesarnya; menyebabkan ratusan ribu warga menjadi pengungsi, ratusan ribu rumah rusak, ribuan korban luka dan meninggal. Sebuah pukulan berat.

Maka menurutnya fahri Hamzah, data ini sangat mengecewakan, karena sudah 178 hari atau hampir 6 bulan lebih telah berlalu sejak gempa pertama. Baru 2,05% rumah yang dikerjakan; adapun rumah yang sudah selesai pengerjaannya baru 191 unit atau setara 0,08% dari total rumah rusak. Dan seingatnya dulu, bahwa pembangunan rumah bagi korban gempa dijanjikan akan kelar dalam 6 bulan. Kini, 6 bulannya sudah mau selesai. Rumah yang selesai dibangun belum mencapai 1%. https://t.co/bguoT8fTcv

“Apa sebenarnya masalah penanganan korban ini? Padahal BNPB mengaku telah mentransfer dana 3,515 Triliun; dimana 156 ribu warga sudah menerima bantuan itu senilai 3,425 triliun, sebagian sisanya masih tertahan”.

“Jika 156 ribu warga sudah menerima dana bantuan, dengan asumsi 1 rumah untuk 1 KK, maka masih terdapat 60.844 rumah yang masih belum ada kejelasannya, apakah dibantu ataukah tidak. Di musim hujan yang deras ini, perih membaca data yang masih jauh dari janjinya”.

“Tapi mari kita lewatkan sejenak fakta itu. Mari kita fokus pada uang yang sudah diterima masyarakat senilai 3,425 T yang menjangkau 156 ribu warga; namun setelah 5 bulan bencana, rumah yang baru dikerjakan hanya 4.429 unit? Setelah hampir 6 bulan bencana, rumah yang selesai baru 191 unit?”

“Apa masalahnya? Apa yang sebenarnya terjadi? Ini yang sejak awal saya ingatkan, leadership penanganan bencana mesti kuat, birokrasi bencana mesti lugas dan ringkas, serta sistem pembiayaannya juga mesti terang benderang”.

“Setelah lima bulan lebih penanganan korban di NTB, saya harus katakan, penanganan bencana di NTB berbelit-belit; bahkan untuk pembangunan rumah tahan gempa, prosedurnya saya nilai lebih rumit dari membangun rumah murah (subsidi)”.

Padahal, presiden sendiri telah meng-klaim membangun sejuta rumah buat rakyat, tetapi kenapa rumah bagi korban susah? https://t.co/ggzYJvvwzl (termasuk Meikarta dapat subsidi). ?, tanya FH. (FH)