Sel. Okt 22nd, 2019

Jayakarta : Dari Masjid Mereka Berjuang

Oleh: Uttiek M Panji Astuti, Penulis dan Traveler

Sabtu kemarin, 22 Juni, diperingati sebagai hari ulang tahun kota Jakarta.

Sejarah mencatat, Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen semula akan memberi nama kota yang ditaklukkannya pada Mei 1619 ini dengan nama De Hoorn.

Nama ini mengacu pada kampung halamannya di Noord Holland (Belanda Utara).

Namun pada pesta kemenangannya, seorang soldadoe VOC yang tengah mabuk tiba-tiba meneriakkan, “Batavia… Batavia.” Yang akhirnya digunakan sebagai nama kota ini.

[Alwi Shahab, Waktu Belanda Mabuk Lahirlah Batavia]

Sejatinya kota ini diberi nama Jayakarta. Yang berarti kota kemenangan. Oleh Sang Pembebas: Fatahillah. Setelah berhasil mengusir Portugis pada 22 Juni 1572.

Kota pelabuhan yang berada di muara Sungai Ciliwung ini sempat sangat ramai. Dengan pusat kerajaan yang berada di Kota Intan. Lokasinya kalau sekarang di sekitar terminal bus Jakarta Kota.

Dalam buku Sejarah Masjid yang ditulis Adolf Heyken. Masjid pertama yang dibangun di Jayakarta posisinya kalau sekarang di dekat Hotel Omni Batavia. Antara Jl Kalibesar Barat dan Jl Roa Malaka Utara.

Selain itu juga ada Masjid Al-Alam di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara yang dibangun Fatahillah dan pasukannya saat menyerang Portugis (1527).

Masjid ini memiliki posisi strategis sebagai pusat perjuangan rakyat melawan Belanda. Begitupun saat ribuan prajurit Mataram pimpinan Bahurekso menyerang markas VOC. Para prajurit ini lebih dulu singgah di Masjid Al Alam, Marunda, guna mengatur siasat perjuangan.

Karenanya, masjid menjadi target vital untuk dihancurkan. Sewaktu terjadi perang 1619, seluruh Kraton Jayakarta dibumihanguskan Belanda. Tak hanya bangunan kraton yang hancur, namun masjidnya juga dibakar habis.

Sekitar 15 ribu penduduknya dipaksa mengungsi ke daerah Jatinegara Kaum. Jangan bayangkan posisinya sekarang, yang terasa sangat dekat. Pada waktu itu jarak 20 km harus melewati hutan belukar.

Di tempat ini lalu didirikan Masjid Asy Salafiyah. Dari masjid inilah Pangeran Jayakarta mengomandoi pasukannya bergerilya melawan Belanda. Sampai sekarang masjid ini masih tegak berdiri.

Tak hanya itu, ada lagi masjid-masjid tua yang menjadi saksi sejarah di Jakarta.

Seperti Masjid Al-Anshor di Jl Pengukiran II, yang didirikan oleh para pendatang dari Malabar (India) pada abad pada 1648.

Ada juga masjid kuno yang terkait dengan Kraton Solo dan Kerajaan Banten. Masjid itu bernama an-Nawier yang didirikan pada abad 18.

Pada masa awal kolonial, telah banyak orang Betawi yang beragama Islam. Akibatnya, para pendeta di Kerajaan Pajajaran menilai sang penyebar risalah Kyan Santang melakukan penyimpangan, atau yang disebut langgara.

Dari kata Langgara itulah tercipta istilah langgar yang banyak digunakan orang Betawi untuk menyebut mushala kecil. Sedang tempat shalat yang lebih besar mereka sebut masjid atau masigit.

Hari ini, 22 Juni 2019, kota yang sekarang bernama Jakarta ini merayakan hari jadinya. Hari di mana Fatahillah berhasil membebaskannya dari Portugis.

Selamat ulang tahun Jakarta!

Sumber : https://republika.co.id/berita/kolom/wacana/pti1cs385/jayakarta-dari-masjid-mereka-berjuang