deklarasi gema gong pancasilaJakarta, Menjelang pukul 19.00 WIB, 5 April 2015, kawasan Senen, Jakarta Pusat, diguyur hujan lebat. Hal demikian membuat para pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan jas hujan pada menepi di pinggir jalan yang ada tempat untuk berteduh.

Di Monument HKSN, sebuah tempat yang dihimpit Stasiun Kereta Api Senen dan Pasar Senen, berdiri sebuah tenda di mana di tempat itu berjejer puluhan kursi. Tak jauh dari tenda itu berdiri panggung permanen. Di panggung itu terpampang jelas sebuah tulisan Deklarasi Gema Gong Pancasila.

Bekas hujan yang mengguyur malam itu membekas di area Monumen HKSN. Hujan yang sebelumnya turun bisa jadi membuat panitia khawatir sebab acara yang akan digelar pukul 20.00 yang dihadiri oleh Ketua MPR Zulkifli Hasan dan Pangdam Jaya Mayjen Agus Sutomo bisa terganggu. Syukur hujan reda satu jam sebelum acara dimulai.

Menunggu kedatangan para tamu, panitia memberi kesempatan kepada kelompok pengamen jalanan memberi hiburan dengan mendendangkan lagu-lagu tentang persatuan dan kesatuan bangsa.

Selepas hiburan, tak lama kemudian Zulkifli Hasan tiba di tempat. Prosesi acara, sambutan demi sambutan pun dimulai. Dikatakan oleh Panitia Acara Deklarasi Gema Gong, Wardi, dirinya merasakan gembira dengan acara yang digelar pada malam itu. Diungkapkan untuk menyelenggarakan acara tersebut, dirinya bersama dengan komponen masyarakat yang lain telah melakukan beberapa kali pertemuan sehingga menghasilkan beberapa kesepakatan.

“Kesepakatan itu adalah… ,” ujar Wardi. Wardi pun langsung mengatakan, pertama, masyarakat yang terhimpun dalam Gema Gong masih mencintai Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara. Kedua, siap berjuang dalam suasana gotong royong dalam memwujudkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, ikut menyosialisasikan Pancasila. Keempat, melanjutkan kerja sama dengan MPR, TNI, Polri, dan pemerintah dalam melaksanakan sosialisasi. Kelima, mengharap agar negara bisa menegakkan kedaulatan negara yang adil dan makmur.

Acara pada malam itu di tempat terbuka dan berada di tempat keramaian, pasar dan stasiun kereta api, tak heran bila berbagai kalangan menyeruak di tempat itu. Salah satu tokoh masyarakat yang ikut memberi sambutan, Irawan Nur, menuturkan acara malam ini merupakan malam keramat yang perlu dijunjung dan hormati. “Semoga kegiatan ini bisa terus berjalan sepanjang tahun,” ujarnya.

Dikatakan, Pancasila merupakan jati diri bangsa. “Visi bangsa yang menyatukan,” ujarnya. Mengutip pendapat orang Barat bahwa Pancasila sebagai manajemen Tuhan. “Dengan Pancasila kita lebih dekat pada Allah,” ungkapnya. Lebih lanjut dikatakan bahwa Pancasila terbukti sakti sehingga bisa menyelamatkan bangsa. Tak heran bila ia mengatakan Gema Gong Pancasila sebagai kegiatan keramat. “Dengan acara ini rakyat bisa mengenal Pancasila secara utuh,” ujarnya. “Pancasila membawa kita lebih kuat dan makmur,” tambahnya.

Malam deklarasi itu juga menjadi perhatian Agus Sutomo. Dalam sambutan, Agus Sutomo mengatakan acara ini lahir dari prakarsa masyarakat yang peduli dan komitmen untuk membangkitkan nilai-nilai luhur bangsa. “Gerakan ini relevan dan mengunggah arti penting Pancasila,” ujarnya.

Menurut Agus Sutomo, Indonesia ke depan menghadapi tantangan yang semakin berat. Bangsa ini memiliki sumber daya alam dan wilayah yang luas. Hal inilah yang menarik bangsa lain untuk mengincar Indonesia. Mencermati apa yang berkembang di masyarakat maka kita menyadari bahwa ancaman terhadap NKRI itu semakin nyata. “Untuk itu perlu diperkokoh sendi-sendi kehidupan yang sesuai dengan Pancasila dan NKRI,” tegasnya. “Melalui kegiatan ini kita gelorakan kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai Pancasila,” tambahnya.

Puncak acara dalam kegiatan itu adalah pidato dari Zulkifli Hasan. Dalam sambutan, pria asal Lampung itu mengatakan, dirinya mengapresiasi masyarakat yang mengadakan kegiatan seperti itu. Kegiatan itu penting di tengah bangsa ini yang telah kehilangan roh kebangsaan. Diakui masyarakat saat ini telah menjauh dari nilai-nilai dasar bangsa dan negara. “Sekarang masyarakat semakin jauh dari nilai-nilai yang kita anut,” ujarnya.

Dimaksud oleh Zulkifli Hasan seperti masyarakat menjauh dari Sila IV Pancasila. Musyawarah dan mufakat diganti dengan voting. “Karena voting, yang hitam bisa menjadi putih, ” ujarnya. Lebih lanjut dikatakan bangsa ini semakin jauh dari nilai-nilai konsensus dasar. “Kita semakin jauh dari etika dan keadilan,” tambahnya.

Untuk itu dirinya kembali memberi hormat kepada masyarakat yang membuat acara seperti ini. Dikatakan kalau Sosialisasi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, dilakukan oleh MPR hasilnya tak akan maksimal. Untuk itu MPR mengajak semua untuk melakukan sosialisasi. “Sosialisasi harus dilakukan oleh semua masyarakat,” paparnya.

Zulkifli Hasan dalam kesempatan itu setuju dengan apa yang dikatakan oleh Agus Sutomo bahwa tantangan bangsa ini semakin komplek. Ditegaskan bahwa tantangan bangsa ini menurutnya adalah masalah ketimpangan kesejahteraan, antara kaya dan miskin. “Bila kita memegang Pancasila maka masalah suku dan agama itu masalah yang sudah selesai,” ungkapnya.

Dalam akhir sambutan ia mengatakan, “Mudah-mudahan Gema Gong Pancasila akan disambut di seluruh tanah air. Ini merupakan cita-cita luar biasa.”

Link terkait: Ketua MPR Deklarasikan Gema Gong Pancasila – Kompas.com.

https://binabangunbangsa.com/wp-content/uploads/2015/05/deklarasi-gema-gong-pancasila.jpghttps://binabangunbangsa.com/wp-content/uploads/2015/05/deklarasi-gema-gong-pancasila-150x150.jpgAdminBeritabina bangun bangsa,gema gong pancasila,ketua MPR,wardi jienJakarta, Menjelang pukul 19.00 WIB, 5 April 2015, kawasan Senen, Jakarta Pusat, diguyur hujan lebat. Hal demikian membuat para pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan jas hujan pada menepi di pinggir jalan yang ada tempat untuk berteduh. Di Monument HKSN, sebuah tempat yang dihimpit Stasiun Kereta Api Senen dan Pasar...Bersatu Berkarya Bersama